Cara Penyimpanan dan Pemakaian Vaksin

Pembahasan kita kali ini ialah cara penyimpanan dan pemakaian vaksin. Usahakan untuk menjaga kualitas vaksin tetap tinggi sejak diterima sampai didistribusikan ketingkat berikutnya. Vaksin harus selalu disimpan pada suhu yang telah ditetapkan.

Cara Penyimpanan dan Pemakaian Vaksin

Anda bisa lihat pada tabel Cara Penyimpanan Vaksin berikut ini.

Kabupaten / Kota Puskesmas
Vaksin Polio disimpan pada suhu -15 s.d. -25 oC pada freeze room / freezer. Semua vaksin disimpan pada suhu 2 s.d. 8 oC pada lemari es.
Vaksin lainnya disimpan pada suhu 2 s.d. 8 oC pada coldroom atau lemari es. Khusus vaksin Hepatitis B, pada bidan desa disimpan pada suhu ruangan, terlindung dari sinar matahari langsung.

Sumber: Kemenkes RI, 2013

Tabel Suhu Penyimpanan Jenis Vaksin

VAKSIN Provinsi Kab / Kota PKM / PUSTU BDD / UPK
MASA SIMPAN VAKSIN
2 BLN + 1 BLN 1 BLN + 1 BLN 1 BLN + 1 MG 1 BLN + 1 MG
POLIO -15 s/d -25 derajat C 2 s/d 8 derajat C
DPT-HB 2 s/d 8 derajat C
DT
TT
BCG
CAMPAK
Td
Hepatitis B Suhu ruangan

Sumber: Kemenkes RI, 2013

Cara Pemakaian Vaksin

Anda wajib memperhatikan beberapa hal dalam pemakaian vaksin secara berurutan, yaitu sebagai berikut.

1. Keterpaparan Vaksin terhadap Panas

Vaksin yang telah mendapatkan paparan panas lebih banyak (yang dinyatakan dengan perubahan kondisi Vaksin Vial Monitor [VVM] VVM A ke kondisi B) harus digunakan terlebih dahulu meskipun masa kedaluwarsanya masih lebih panjang. Vaksin dengan kondisi VVM C dan D tidak boleh digunakan.

Pernahkah Anda membaca tentang VVM? Di sini Anda akan mempelajari tentang VVM. Jadi, yang dimaksud dengan VVM adalah alat pemantau paparan suhu panas. Fungsi VVM untuk memantau suhu vaksin selama dalam perjalanan maupun dalam penyimpanan. VVM ditempelkan pada setiap vial vaksin berupa bentuk lingkungan dengan bentuk segi empat pada bagian dalamnya.

Diameter VVM sekitar 0,7 cm (7 mm). VVM mempunyai karakteristik yang berbeda, spesifik untuk tiap jenis vaksin. VVM untuk vaksin polio tidak dapat digunakan untuk vaksin HB, begitu juga sebaliknya. Setiap jenis vaksin mempunyai VVM tersendiri. Semua vaksin dilengkapi VVM, kecuali BCG. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat melihat gambar berikut ini.

Cara Penyimpanan dan Pemakaian Vaksin

2. Masa Kadaluwarsa Vaksin

Apabila kondisi VVM vaksin sama, maka digunakan vaksin yang lebih pendek masa kadaluwarsanya (Early Expire First Out / EEFO).

3. Waktu Penerimaan Vaksin (First In First Out / FiFO)

Vaksin yang terlebih dahulu diterima sebaiknya dikeluarkan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan asumsi bahwa vaksin yang diterima lebih awal mempunyai jangka waktu pemakaian yang lebih pendek.

4. Pemakaian Vaksin Sisa

Vaksin sisa pada pelayanan statis (Puskesmas, Rumah Sakit, atau Praktik Swasta) bisa digunakan pada pelayanan hari berikutnya. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut.

  • Disimpan pada suhu 2osd. 8o C;
  • VVM dalam kondisi A atau B;
  • Belum kadaluwarsa;
  • Tidak terendam air selama penyimpanan;
  • Belum melampaui masa pemakaian.

Anda akan lebih mudah mengingat dengan menggunakan tabel Masa Pemakaian Vaksin Sisa berikut ini.

Jenis Vaksin Masa Pemakaian Keterangan
POLIO 2 Minggu Cantumkan tanggal pertama kali vaksin digunakan
TT 4 Minggu
DT 4 Minggu
Td 4 Minggu
DPT-HB-Hib 4 Minggu
BCG 3 Jam Cantumkan waktu vaksin dilarutkan
Campak 6 Jam

Sumber: Permenkes, 2013

Vaksin sisa pelayanan dinamis (posyandu, sekolah) tidak boleh digunakan kembali pada pelayanan berikutnya, dan harus dibuang.

5. Monitoring Vaksin dan logistik

Setiap akhir bulan, atasan langsung pengelola vaksin melakukan monitoring administrasi dan fisik vaksin serta logistik lainnya. Hasil monitoring dicatat pada kartu stok dan dilaporkan secara berjenjang bersamaan dengan laporan cakupan imunisasi.

Sekian informasi terkait dengan cara penyimpanan dan pemakaian vaksin, semoga artikel ini berguna untuk kalian. Tolong artikel ini diviralkan agar semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Leave a Reply